Jurnal

Beratnya Sunyi

Di momen paling hening, kita sering mendengar kebenaran yang paling lantang. Sebuah refleksi tentang menemukan kedamaian di antara jeda kata-kata.

5 menit baca
Beratnya Sunyi

Di momen paling hening, kita sering mendengar kebenaran yang paling lantang. Ada sesuatu yang mendalam tentang kesunyian—bukan ketiadaan suara, melainkan kehadiran ketenangan.

Aku telah belajar merangkul momen-momen ini, untuk duduk dengan ketidaknyamanan pikiranku sendiri, membiarkannya menyapu diriku seperti ombak di pantai yang tak kenal apapun selain kesabaran.

Seni Mendengarkan

Kita menghabiskan begitu banyak waktu dalam hidup untuk berbicara, menjelaskan, membela diri. Tapi apa yang terjadi ketika kita hanya mendengarkan? Bukan hanya kepada orang lain, tapi kepada diri sendiri?

Kesunyian mengajarkan kita hal-hal yang tak bisa diungkapkan kata-kata. Ia menunjukkan kontur ketakutan kita, bentuk harapan kita, tekstur mimpi-mimpi kita.

"Dalam diam, ada kefasihan. Berhentilah menenun dan lihat bagaimana polanya membaik." — Rumi

Aku memikirkan semua percakapan yang kulakukan dengan diriku sendiri di keheningan malam. Pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. Jawaban-jawaban yang hanya memunculkan lebih banyak pertanyaan.

Menemukan Kedamaian

Kedamaian bukanlah ketiadaan konflik. Ia adalah kehadiran penerimaan. Ia adalah mengetahui bahwa kita berada tepat di tempat yang seharusnya, bahkan ketika tempat itu terasa tidak nyaman.

Beratnya sunyi bukanlah beban—ia adalah undangan. Undangan untuk pergi lebih dalam, melihat lebih dekat, menjadi lebih jujur dengan diri sendiri dari yang pernah kita beranikan.

A

Agnaqill

Penulis & Kreator

Lanjutkan Membaca